Rabu, 27 Mei 2015

Komunikasi dengan aparat pemerintah dan komponen masyarakat




Kodim Magelang menggelar acara komunikasi sosial dengan birokrat dan berbagai elemen masyarakat, Selasa (26/5).


MAGELANG-Kita harus waspada ketika dibodohi oleh negara-negara maju yang ingin menguasai sumber daya alam Indonesia. Upaya seperti itu sudah mulai dilakukan melalui berbagai upaya, termasuk mengadu domba antarwarga.
Dandim 0705/Magelang Letkol Arm I Made Gede Antara mengutarakan hal itu dalam acara komunikasi sosial dengan aparat pemerintah dan komponen masyarakat di Aula Kodim, Selasa (26/5). Kegiatan itu diikuti Muspida Kabupatan dan Kota Magelang, LSM, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan wartawan. ''Orang luar berupaya mengadu domba kita. Akhirnya yang kuliah bukannya belajar tetapi malah tawur maupun demo anarkis, dan kini narkoba sudah sampai sekolah-sekolah,'' katanya.
Upaya itu, kata Dandim, merupakan kepentingan negara lain untuk menghancurkan negara dan generasi kita. Dengan saling diadu domba, harapan mereka antarwarga kita tidak lagi akur. Selain itu pelajar tidak fokus mengisi ilmu untuk dirinya sendiri. Untuk mengantisipasi ancaman proxy war itu negara kita harus tetap berlandasan idiil Pancasila.
Dalam kesempatan yang sama Dandim mengingatkan kilas balik di era beberapa tahun silam. Ketika itu ada penataran P4 dan pengamalan butir-butir Pancasila. Melalui penerapan butir-butir Pancasila ketika itu model kehidupan warga negara kita lebih mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi dan golongan. ''Kalau kita jalankan butir-butir Pancasila sebetulnya tidak ada gontok-gontokan,'' ujarnya.
Kini banyak ancaman yang hendak menghancurkan keutuhan NKRI, antara lain melalui gerakan Islamic States (IS). Padahal kalau gerakan IS sudah terlanjur masuk Indonesia, maka akan susah menanggulanginya. Untuk mengurangi gerakannya bukan hanya jadi tugas tentara dan polri saja, tetapi semua warga masyarakat. ''Para Camat kalau ada orang yang mencurigakan tolong dipantau dan segera dilaporkan,'' pintanya.
Dalam acara yang diikuti ratusan orang itu Dandim juga memaparkan alasan kenapa sekarang anggota TNI ikut menggarap sawah. Menurut dia, tak lain agar Indonesia dapat mewujudkan swasembada pangan. Kalau persediaan pangannya cukup diharapkan warga Indonesia tidak akan mudah dipengaruhi orang lain yang akan merusak bangsa kita.
Diingatkan, saat ini kita sudah lengah dalam hal pengadaan pangan. Sebab daya beli pemerintah terhadap beras petani rata-rata Rp 7.300/kg, sementara harga beras impor Rp 4 ribu/kg. Maka begitu beras impor masuk, para petani Indonesia tidak bisa menjual beras lantaran harganya lebih murah beras impor.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar